Selasa, 23 Mei 2017

LAZISNU akan Terus Bantu Korban Banjir Muaragembong

Bekasi, Ahlussunnah Waljamaah Indonesia. Sabtu malam, Posko Kramat Raya 164 yang dipimpin Amir Maruf, Direktur LAZISNU menyalurkan sembako dan kebutuhan balita untuk Kecamatan Muaragembong Kabupaten Bekasi, Jawa Barat.

Sembako yang disalurkan itu berupa susu, gula, minyak goreng, mie instan, teh, biskuit, pembalut, pampers, obat-obatan, air mineral, dan lain-lain. Sembako diterima oleh Ketua Majelis Wakil Cabang (MWC) NU Muaragembong Ustad Amirudin.

LAZISNU akan Terus Bantu Korban Banjir Muaragembong (Sumber Gambar : Nu Online)
LAZISNU akan Terus Bantu Korban Banjir Muaragembong (Sumber Gambar : Nu Online)


LAZISNU akan Terus Bantu Korban Banjir Muaragembong

Posko Kramat Raya 164, tidak bisa menyalurkan secara langsung ke lokasi bencana sebab jalanan terputus sejauh 300 meter, kata Amir Maruf di Jakarta, Senin, (21/01).

Pemberian sembako itu, sambung Amir, dilakukan di sungai Blacan danakan diteruskan dengan dua perahu, perjalanan 40 menit melewati bibir pantai Muarabakti.

Ahlussunnah Waljamaah Indonesia

Medan ke sana, berat karena terisolir dan belum banyak bantuan yang masuk. Untuk menuju ke kali Blacan saja, dari kota bekasi, harus ditempauh 3 jam, melalui jalan di tepi sungai Bekasi yang kondisinya ada yang banjir, pecah-pecah, amblas.

Selain sembako pada minggu ini, Posko Kramat Raya 164, akan menggalang pakaian, selimut, dan jaket, jelasnya. Amir menambahkan penamaan Posko Krmat Raya 164 karena bukan hanya PP LAZISNU, tapi juga mendatangkan relawan sahabat-sahabat PMII, IPNU, IPPNU dan jurnalis Ahlussunnah Waljamaah Indonesia.

Ahlussunnah Waljamaah Indonesia

"Silakan untuk teman-teman yang ingin jadi relawan, tidak hanya NU, bahkan kami mendapat sumbangan sembako, nasi bungkus, pakaian, jaket, selimut dari orang-orang yang tidak kita kenal sebelumnya. Mereka mengerti posko kita dari mediso sosial, Facebook dan Twitter.

Pada hari ahad, pukul 11.00, semua desa di Kecamatan Muarabakti surut, kecuali Desa Pantaibakti karena desa itu berbatasan langsung dengan bendungan yang jebol. Tapi warga masih tetap mengungsi. Mereka berada di musola-musola, masjid, dan sekolah-sekolah.

Donasi bisa disalurkan melalui LAZIS NU. No Rek BCA 6340161473, MANDIRI 1230004838951, MANDIRI SYARIAH 1280003047, BNI 010.85723.08. Semua atas nama PP LAZIS NU.

Penulis: Abdullah Alawi

Dari (Nasional) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/41946/lazisnu-akan-terus-bantu-korban-banjir-muaragembong

Minggu, 02 April 2017

Yang Bangun Masjid Warga NU, Kok yang Menguasai Pihak Lain?

Demak, Ahlussunnah Waljamaah IndonesiaWakil Ketua PWNU Jawa Tengah H Muhlisin Bisyri mengimbau Nahdliyin agar selalu meramaikan masjid dan sering menggelar berbagai kegiatan keagamaan di masjid. Jangan sampai masjid sepi dari umat.

Hal itu ia tegaskan saat hadir dalam acara peletakan batu pertama pembangunan Masjid Nahdlatul Ulama, di Desa Kebonbatur, Kecamatan Mranggen, Kabupaten Demak, Ahad (18/9).

Yang Bangun Masjid Warga NU, Kok yang Menguasai Pihak Lain? (Sumber Gambar : Nu Online)
Yang Bangun Masjid Warga NU, Kok yang Menguasai Pihak Lain? (Sumber Gambar : Nu Online)


Yang Bangun Masjid Warga NU, Kok yang Menguasai Pihak Lain?

"Masjid hari ini problemnya yang membikin orang NU, tapi kadang orang NU sendiri jadi pangling (lupa) dengan masjidnya. Sebab setelah masjid didirikan, kemudian diisi dan dikuasai orang lain yang beda paham. Ini sangat banyak," katanya.

Ahlussunnah Waljamaah Indonesia

Ketua Sekolah Tinggi Agama Islam Wali Sembilan Semarang itu mencontohkan, di daerah Pucanggading Mranggen Demak, misalnya, terdapat kasus pihak notaris tidak bersedia menyerahkan sertifikat tanah masjid karena ada persoalan.

"Karena kalau diserahkan ke satu pihak, pihak lain tidak terima, ini jadi rebutan. Padahal yang jelas-jelas kerja keras membangun adalah warga Nahdliyin," tegasnya.

Ahlussunnah Waljamaah Indonesia

Maka, berhubung saat ini proses pembangunan masjid NU ini masih dalam awal pembangunan, maka seluruh pengurus NU beserta badan otonomnya, serta warga setempat, harus bahu-membahu gotong-royong agar niatan mendirikan tempat ibadah ini segera tuntas.

"Setelah jadi, saya harap nanti dirawat bersama-sama. Biasanya NU yang membangun, tapi yang menempati pihak lain. Ini tidak boleh terjadi, meskipun masjid NU dengan masjid lainnya tidak ada bedanya, sama-sama untuk ibadah," ungkapnya.

Muhlisin juga menegaskan, ke depan masjid ini harus benar-benar mensyiarkan ubudiyah nahdliyin. Tidak ada toleransi pada pihak lain yang akan masuk dan mendominasi tata cara beribadah dan lainnya.

"Shalat tarawih harus tetap 20 rakaat, harus ada tongkat untuk khotbah, adzan Jumat harus dua kali, ada doa qunut ketika jamaah salat Subuh. Ini mutlak dan tidak bisa ditawar dan harga mati. Tidak ada kata toleransi," jelasnya.

Dalam acara peletakan batu pertama ini, juga dihadiri Anggota Komisi D DPRD Provinsi Jawa Tengah dari Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), Nur Saadah (Ida), dan Syuriyah PCNU Demak KH Ahmad Zaeni Mawardi yang juga Mustasyar NU Ranting Desa Kebonbatur.

Adapun masjid NU ini akan berdiri di atas tanah wakaf seluas 410 meter persegi dari total lahan seluas 625 meter persegi. Selain didirikan masjid, di komplek ini juga akan dibangun secretariat kantor NU Ranting Kebonbatur beserta seluruh badan otonomnya. Juga akan didirikan poliklinik NU.

Letak kompleks ini cukup strategis, karena berada di perbatasan antara perkampungan dengan komplek Perumnas. Sehingga ke depan, komplek ini akan menjadi saksi proses akulturasi budaya antara warga setempat dengan warga pendatang dari berbagai daerah di Indonesia yang bermukim di sekitarnya.

Ketua Panitia Pembangunan Masjid dan gedung NU tersebut, Munaji Effendi menambahkan, estimasi anggaran pembangunan masjid dan gedung NU ini mencapai Rp 1.863.620.409. Saat ini dana yang terkumpul dari infaq masyarakat mencapai sekitar Rp 10 juta.

"Kebanyakan warga ada yang menyumbangkan material berupa pasir, batu-bata, besi, semen, batu, dan sebagainya. Jadi, pembangunan ini kita lakukan dengan gotong-royong," ungkapnya.

Pihaknya menargetkan, pembangunannya akan selesai dalam waktu dua tahun terhitung mulai 2016. "Tapi kalau pendanaannya tersendat, ya tidak tahu selesainya kapan. Maka kami juga berharap pada para dermawan yang diberi rizki berlebih oleh Allah, untuk bisa andil dalam pembangunan masjid ini," tuturnya. (Huda/Mahbib)

Dari (Daerah) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/71306/yang-bangun-masjid-warga-nu-kok-yang-menguasai-pihak-lain

Minggu, 26 Maret 2017

KH Subchi Parakan: Kiai Bambu Runcing, Guru Jenderal Soedirman

Revolusi kemerdekaan Indonesia ditopang oleh perjuangan kaum santri dan barisan Kiai yang menyelamatkan negeri. Sayangnya, kisah perjuangan para kiai dan santri, tenggelam dalam narasi sejarah Indonesia. Salah satunya, Kiai Subchi Parakan, yang dikenal dengan "Kiai Bambu Runcing". Bagaimana kisah hidup dan perjuangan Kiai Subchi?

Kiai Subchi lahir di Parakan, Temanggung, Jawa Tengah, sekitar tahun 1850. Subchi, atau sering disebut dengan Subeki, merupakan putra sulung Kiai Harun Rasyid, penghulu masjid di kawasan ini. Subchi kecil bernama Muhammad Benjing, nama yang disandang ketika lahir. Setelah menikah, nama ini diganti menjadi Somowardojo, kemudian nama ini diganti ketika naik haji, menjadi Subchi.

KH Subchi Parakan: Kiai Bambu Runcing, Guru Jenderal Soedirman (Sumber Gambar : Nu Online)
KH Subchi Parakan: Kiai Bambu Runcing, Guru Jenderal Soedirman (Sumber Gambar : Nu Online)


KH Subchi Parakan: Kiai Bambu Runcing, Guru Jenderal Soedirman

Kakek Kiai Subchi, Kiai Abdul Wahab merupakan keturunan seorang Tumenggung Bupati Suroloyo Mlangi, Yogyakarta. Kiai Abdul Wahab inilah yang menjadi pengikut Pangeran Dipanegara, dalam periode Perang Jawa (1825-1830). Ketika laskar Dipanegara kalah, banyak pengikutnya yang menyembunyikan diri di kawasan pedesaan untuk mengajar santri. Jaringan laskar kiai kemudian bergerak dalam dakwah dan kaderisasi santri.

Ahlussunnah Waljamaah Indonesia

Kiai Wahab kemudian mengundurkan diri untuk menghindar dari kejaran Belanda. Ia menyusuri Kali Progo menuju kawasan Sentolo, Godean, Borobudur, Bandongan, Secang Temanggung, hingga singgah di kawasan Parakan. Kawasan Parakan merupakan titik penting arus transportasi kawasan Kedu, yakni sebagai persimpangan Banyumas, Kedu, Pekalongan dan Semarang. Keluarga Kiai Abdul Wahab kemudian menetap di Parakan, sebagai tempat bermukim untuk menggembleng santri dan menyiapkan perlawanan terhadap penjajah.

Pasukan Belanda henti-hentinya mengejar pengikut Dipanegara di berbagai pelosok Jawa, terutama Yogyakarata, Jawa Tengah dan Jawa Timur. Ketika Ibunda Kiai Subchi mengandung, Belanda masih sering mengejar keturunan Kiai Wahab, serta santri-santri yang diduga menjadi pengikut Dipanegara. Pada tahun 1885, Subchi kecil berada di gendongan ibundanya untuk mengungsi dari kejaran pasukan Belanda.

Subchi kecil dididik oleh orangtuanya, dengan tradisi pesantren yang kuat. Ia kemudian nyantri di pesantren Sumolangu, asuhan Syekh Abdurrahman Sumolangu (ayahanda Kiai Mahfudh Sumolangu, Kebumen). Dari ngaji di pesantren inilah, Kiai Subchi menjadi pribadi yang matang dalam ilmu agama hingga pergerakan kebangsaan.

Ahlussunnah Waljamaah Indonesia

Parakan: Simpul Perjuangan Laskar Santri

Parakan merupakan sebuah kota kecil di Kabupaten Temanggung. Kota ini, memiliki arti penting dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Pada awal abad 20, Temanggung menjadi basis pergerakan Sarekat Islam (SI). Kaum santri yang tinggal di Parakan, menjadi tulang punggung kaderisasi SI. Bahkan, di Parakan juga pernah diselenggarakan Kongres Sarekat Islam, yang dihadiri oleh HOS Tjokroaminoto. Pada 1913, anggota Sarekat Islam di Parakan, berjumlah 3.769 orang. Cabang SI Temanggung dibuka pada 1915, dengan jumlah anggota 4.507 (Thamrin, 2008).

Di Parakan, Temanggung, masa sebelum kemerdekaan sangat memprihatinkan bagi rakyat. Hal ini, karena kondisi ekonomi sangat sulit dan politik pemerintah Hindia Belanda yang memeras rakyat dengan tanam paksa, maupun sistem kerja paksa. Ketika Jepang menduduki Jawa, warga Temanggung juga menanggung beban yang sulit. Kewajiban Romusha menjadi beban yang sangat berat bagi rakyat Parakan di Temanggung. Pemberlakukan romusha menjadikan warga terlantar, hidup sengsara, lahan pertanian terbengkalai, hingga sebagian warga menderita busung lapar karena sulitnya memperoleh makanan. Bahkan, kain karung goni sebagai penutup tubuh, menjadi pemandangan biasa pada masa itu (Darban, 1988). Warga Parakan, Temanggung juga banyak yang direkrut sebagai romusha. Mereka dikirim ke Banten, serta ke wilayah Malaysia dan Myanmar.

Pada masa kemerdekaan, Parakan Temanggung menjadi simpul pergerakan untuk melawan penjajah. Ketika Pemerintah Hindia Belanda berusaha menggunakan strategi pemisahan wilayah, berupa garis demarkasi Van Mook, warga Temanggung juga bergerak untuk melawan diskriminasi politik yang dilancarkan Hindia Belanda. Pada saat itu, dibentuklah Barisan Muslimin Temanggung (BMT). Barisan ini dipelopori oleh kiai-santri, yang bertujuan untuk memobilisasi kekuatan rakyat melawan penjajah. BMT didirikan pada 30 Oktober 1945 di masjid Kauman Parakan.

Sebelum adanya BMT, warga Parakan Temanggung bergerak dalam jaringan Barisan Keamanan Rakyat (BKR). Warga Parakan yang tergabung dalam BKR sempat melakukan serangan terhadap sembilan bekas Tentara Jepang yang akan menuju Ngadirejo. Ketika melewati Parakan, pasukan Jepang diserbu oleh warga yang terkonsolidasi dalam BKR. Peristiwa penyerangan ini, dikenal sebagai Peristiwa Batuloyo (Gunardo, 1986).

Setelah adanya Barisan Muslimin Temanggung, operasi warga untuk melawan penjajah semakin gencar. Santri-santri yang tergabung dalam barisan ini, menjadi bertambah semangat dengan dukungan kiai, terutama Kiai Subchi Parakan. Beberapa kali, BMT berhasil menyerbu patroli militer Belanda yang lewat kawasan Parakan. Perjuangan heroik BMT dan dukungan Kiai Subchi, mengundang simpatik dari jaringan pejuang santri dan militer. Beberapa tokoh berkunjung ke Parakan, untuk bertemu Kiai Subchi dan pemuda BMT: Jendral Soedirman (1916-1950), Kiai Wahid Hasyim (1914-1953), Kiai Zaenal Arifin (Hizbullah), Kiai Masykur (Sabilillah), Kasman Singadimedja (Jaksa Agung), Mohammad Roem, Mr. Wangsanegara, Mr. Sujudi, Roeslan Abdul Gani dan beberapa tokoh lainnya.

Ketika pasukan Belanda menyerbu kembali Jawa pada Desember 1945, barisan santri dan kiai bergerak bersama warga untuk melawan. Pertempuran di Ambarawa pada Desember 1945 menjadi bukti nyata. Bahkan, Jendral Sudirman berkunjung ke kediaman Kiai Subchi untuk meminta doa berkah dan bantuan dari Kiai Subchi. Jendral Sudirman sering berperang dalam keadaan suci, untuk mengamalkan doa dari Kiai Subchi. Dari narasi ini, dapat diketahui bahwa Jenderal Sudirman merupakan santri Kiai Subchi.

Kiai Bambu Runcing, Kiai Penggerak

Kiai Subchi dikenal sebagai seorang yang murah hati, suka membantu warga sekitar yang kekurangan. Jiwa bisnisnya tumbuh seiring dengan kesuburan tanah di lereng Sindoro Sumbing. Pertanian menjadi andalan, dengan pelbagai macam tanaman yang menjadi ladang pencaharian warga. Saat ini, Parakan dikenal sebagai kawasan andalan dengan hasil tembakau terbaik di Jawa. Kiai Subchi, pada waktu itu, sering membagikan hasil pertanian, maupun menyumbangkan lahan kepada warga yang tidak memilikinya. Inilah kebaikan hati Kiai Subchi, hingga disegani warga dan memiliki kharisma kuat.

Ketika barisan Kiai mendirikan Nahdlatul Ulama pada 1926, Kiai Subchi turut serta dengan mendirikan NU Temanggung. Beliau menjadi Rais Syuriah NU Temanggung, didampingi Kiai Ali (Pesantren Zaidatul Maarif Parakan) dan Kiai Raden Sumomihardho, sebagai wakil dan sekretaris. Nama terakhir merupakan ayahanda Kiai Muhaiminan Gunardo, yang menjadi tokoh pesantren dan NU di kawasan Temanggung-Magelang. Kiai Subchi juga sangat mendukung anak-anak muda untuk berkiprah dalam organisasi. Pada 1941, Anshor Nahdlatul Oelama (ANO) mengadakan pengkaderan di Temanggung, yang langsung dipantau oleh Kiai Subchi.

Kiai Subchi dikenal sebagai kiai alim dan pejuang yang menggelorakan semangat pemuda untuk bertempur melawan penjajah. Kiai ini, dikenal sebagai "Kiai Bambu Runcing", karena pada masa revolusi meminta pemuda-pemuda untuk mengumpulkan bambu yang ujungnya dibuat runcing, kemudian diberi asma dan doa khusus. Dengan bekal bambu runcing, pemuda-pemuda berani tampil di garda depan bertarung dengan musuh. Bambu runcing inilah yang kemudian menjadi simbol perjuangan warga Indonesia untuk mengusir penjajah.

Dalam catatan Kiai Saifuddin Zuhri (1919-1986), Kiai Subchi menjadi rujukan askar-askar yang berjuang di garda depan revolusi kemerdekaan. "Berbondong-bondong barisan-barisan laskar dan TKR menuju Parakan, sebuah kota kawedanan di kaki dua gunung pengantin Sindoro dan Sumbing. Di antaranya yang terkenal adalah Hizbullah di bawah pimpinan Zainul Arifin, Barisan Sabilillah di bawah pimpinan Kiai Masykur", Barisan Pemberontak Rakyat Indonesia di bawah pimpinan Bung Tomo, "Barisan Banteng" di bawah pimpinan dr. Muwardi, Laskar Rakyat di bawah pimpinan Ir. Sakiman, Laskar Perindo di bawah pimpinan Krissubbanu dan masih banyak lagi. Sudah beberapa hari ini, baik TKR maupun badan-badan kelaskaran berbondong-bondong menuju Parakan".

Kiai Subchi dikenal sebagai sosok sederhana, zuhud dan sangat tawadhu. Ketika banyak pemuda pejuang yang sowan untuk minta doa dan asma, Kiai Subchi justru menangis tersedu. "KH Wahid Hasyim, KH. Zainul Arifin, dan KH Masjkur pernah mengunjunginya. Dalam pertemuan itu, Kiai Subchi menangis karena banyak yang meminta doanya. Ia merasa tidak layak dengan maqam tersebut. Mendapati pernyataan ini, tergetarlah hati panglima Hizbullah, KH. Zainul Arifin, akan keikhlasan sang kiai. Tapi, Kiai Wahid Hasyim menguatkan hati Kiai Bamburuncing itu, dengan mengatakan bahwa apa yang dilakukannya sudah benar", catat Kiai Saifuddin Zuhri dalam memoarnya "Berangkat dari Pesantren".

Kiai Subchi merupakan teladan dalam kedermawanan, pengetahuan dan perjuangan. Sosok Kiai Subchi menjadi panutan bangsa ini untuk mengawal negeri, mengawal NKRI. Selayaknya, negara mengakuinya sebagai Pahlawan Bangsa.

*Munawir Aziz, periset Islam Nusantara, pengurus LTN PBNU (Twitter: @MunawirAziz)

Referensi:

Ahmad Adaby Darban, Sejarah Bambu Runcing, Laporan Penelitian: Fakultas Sastra UGM, 1988.

_________________________, Fragmenta Sejarah Islam di Indonesia, Surabaya: JP Books, 2008.

Ahmad Baso, Islam Nusantara, Jakarta: Pustaka Afid, 2015.

Amran Habibi, Sejarah Pencak Silat Indonesia: Studi Historis Perkembangan Persaudaraan Setia Hati Terate di Madiun Periode 1922-2000. Skripsi UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, 2009

Husni Thamrin,dkk, Geger Doorstoot: Perjuangan Rakyat Temanggung1945-1950, Temanggung: Dewan Harian Cabang, 2008.

Muhaiminan Gunardo, Bambu Runcing Parakan, Yogyakarta: Kota Kembang,1986.

Nur Laela, Perjuangan Rakyat Parakan-Temanggung dalam Mempertahankan Kemerdekaan Republik Indonesia (1945-1946), Skripsi UIN Yogyakarta, 2014.

Dari (Tokoh) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/65488/kh-subchi-parakan-kiai-bambu-runcing-guru-jenderal-soedirman

Sabtu, 25 Maret 2017

PMII Sukoharjo Peringati Satu Dasawarsa

Sukoharjo, Ahlussunnah Waljamaah Indonesia. Keluarga besar Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Kabupaten Sukoharjo, belum lama ini (8/5) mengadakan peringatan Hari Lahir (Harlah) ke-53 PMII yang dan Satu Dasawarsa PMII Sukoharjo.

Acara yang dihadiri ratusan peserta baik pengurus, anggota, maupun para alumni tersebut diselenggarakan di Gedung Pertemuan Kantor Kelurahan Ngadirejo Kartasura Sukoharjo.

PMII Sukoharjo Peringati Satu Dasawarsa (Sumber Gambar : Nu Online)
PMII Sukoharjo Peringati Satu Dasawarsa (Sumber Gambar : Nu Online)


PMII Sukoharjo Peringati Satu Dasawarsa

Dalam acara yang mengusung tema "Memperteguh Peran Strategis PMII Sebagai Social Mandatory Dalam Kepemimpinan Demokrasi" ini, ketua PMII Sukoharjo, Jampit Ludiro dalam suatu orasi kebangsaan, ia mengatakan dengan lebih dari usia emas, organisasi PMII dalam level nasional telah terbukti sebagai perangkai negeri dan penjaga NKRI.

Ahlussunnah Waljamaah Indonesia

Itu bagian dari bukti PMII sebagai social mandatory, kata Mahasiswa IAIN Surakarta itu.

Sinergitas dan kolektifitas antara kader dan alumni, juga menjadi modal penting dalam menjaga ritme gerakan, imbuh sang ketua.

Ahlussunnah Waljamaah Indonesia

Acara kemudian dilanjutkan dengan pentas monolog Kemerdekaan karya Putu Wijaya. Di akhir peringatan Harlah PMII ini, diadakan pemberian kenang-kenangan dari pengurus cabang untuk para mantan ketua, mulai dari periode 1 sampai periode 7.

Redaktur : Mukafi Niam

Kontributor: Ajie Najmuddin

Dari (Daerah) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/44454/pmii-sukoharjo-peringati-satu-dasawarsa

Selasa, 21 Februari 2017

Bersihkan Kotoran Jiwa dengan Taubat dan Ikhlas

Boyolali, Ahlussunnah Waljamaah Indonesia. Manusia diperintahkan oleh Allah SWT untuk bersuci. Bersuci atau yang juga dikenal dengan istilah thaharah, juga disayaratkan sebagai salah satu syarat ibadah shalat. Bersuci tak hanya cukup lahirnya saja, batin pun mesti kita sucikan.

"Ada dua macam bersuci. Yang pertama yakni menyucikan jiwa kita. Kedua membersihkan badan kita dari kotoran dan najis," terang Rais Syuriah MWCNU Banyudono, KH Asikin, pada pertemuan rutin yang diadakan di Masjid An-Nur Puluhan Bendan Banyudono Boyolali, Selasa (17/1) malam.

Bersihkan Kotoran Jiwa dengan Taubat dan Ikhlas (Sumber Gambar : Nu Online)
Bersihkan Kotoran Jiwa dengan Taubat dan Ikhlas (Sumber Gambar : Nu Online)


Bersihkan Kotoran Jiwa dengan Taubat dan Ikhlas

Dipaparkan Kiai Asikin, cara membersihkan jiwa yang kotor yakni dengan bertaubat. "Istighfar dan tidak akan mengulangi lagi perbuatan maksiat tersebut," tutur dia.

Adapun hati yang kotor, lanjut dia, disebabkan karena melakukan berbagai akhlak jelek, seperti sirik, sombong, iri, dengki dan lain sebagainya. "Hal-hal tersebut bisa membuat kotor hati. Cara menghilangkannya bagaimana? dengan ikhlas, yakni tidak sakit hati ketika direndahkan, dan tidak besar hati ketika dipuji," kata dia.

Ahlussunnah Waljamaah Indonesia

Sedangkan kotoran yang menempel pada badan, yang bersifat lahir, dapat dibersihkan dengan cara wudhu, mandi wajib dan sebagainya. (Ajie Najmuddin)

Dari (Daerah) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/74738/bersihkan-kotoran-jiwa-dengan-taubat-dan-ikhlas

Ahlussunnah Waljamaah Indonesia

Ahlussunnah Waljamaah Indonesia

Minggu, 19 Februari 2017

Tidak Mau Nikah Itu Dhalim, Dikasih Kelamin Kok Hanya Untuk Kencing

Ahlussunnah Waljamaah Indonesia - Banyak jomblo (laki-laki muda, kuat, tapi belum punya pasangan) yang mengidam-idamkan calon suami/istri yang punya kriteria paling pas buat dirinya. Namun, mereka banyak yang tidak langsung berusaha mencari atau menemukan sendiri jodohnya.

Tidak Mau Nikah Itu Dhalim, Dikasih Kelamin Kok Hanya Untuk Kencing - Ahlussunnah Waljamaah Indonesia
Tidak Mau Nikah Itu Dhalim, Dikasih Kelamin Kok Hanya Untuk Kencing - Ahlussunnah Waljamaah Indonesia


Tidak Mau Nikah Itu Dhalim, Dikasih Kelamin Kok Hanya Untuk Kencing



Akhirnya, hingga usia tua pun, kesendirian masih menemani. Ketika punya hasrat mengeluarkan sesuatu yang harusnya dikeluarkan, ia menempuh jalan lain, ngocok atau m4sturb4si. Menurut (alm) KH Cholil Bisri, kakak KH Mustofa Bisri, ngocok itu dholim. Makanya hukumnya haram.

Kiai Cholil, dalam sebuah pengajian rutin di pondok, sebagaimana pernah didengarkan langsung oleh santrinya, Ichwan DS, menyatakan bahwa ngocok itu tidak menggunakan alat kelamin.

"Alat kelamin kuwi kudu digunakno kanthi diadu. Diadu ambek jinis kelamin liyane. Dadine puinuuuuk, nikmaaat sangeeet/ alat kelamin itu harus digunakan menggunakan cara diadu, yakni diadu dengan jenis kelamin lain, biar rasanya enak dan nikmat," kata Kiai Cholil.

Selain alasan di atas, ngocok jadi dholim sebab memaksa burung hingga keluar sesuatu darinya, "ngocok kuwi perbuatan dholim maring k*nt*l, dholim maring alat kelamin, amergo mekso barang siji kanthi sak metune/ ngocok itu perbuatan dhalim kepada kelamin karena memaksa satu organ barang hingga keluar," dawuh beliau ke santri-santri.

Karena itulah, laki-laki yang tidak memiliki istri, bagi Mbah Cholil, masih menyandang status dholim.

"Wong ora kawin kuwi Dholim. Mergo diparingi Gusti Allah alat kelamin kok mung dienggo nguyoh thok/ Orang tidak kawin itu dhalim. Sebab dikasi Gusti Allah alat kelamin kok hanya digunakan kencing doang," kata kiai asal Rembang tersebut.

Dawuh Mbah Cholil Bisri Kini, terserah Anda para jomblo mau nikah cepat atau tidak. Semakin menemukan jodoh, maka, kian lepas dari perbuatan lalim yang sangat tidak disukai Allah subhanahu wa ta'ala. [Ahlussunnah Waljamaah Indonesia]

Dari : http://www.dutaislam.com/2016/12/tidak-mau-nikah-itu-dhalim.html

Sabtu, 18 Februari 2017

Usia Umat Islam Hanya 1500 Tahun Sejak Nabi Diutus?

Ahlussunnah Waljamaah Indonesia - Berawal dari diutusnya Rasulullah di akhir zaman, para ulama ada yang menafsirkan bahwa masa akhir zaman tidaklah lama. Dalam sebuah hadis, Nabi menyebut masa umat Islam diantara umat lain sebelumnya adalah seperti waktu Ashar ke Maghrib (HR al-Bukhari). Dari hadis ini, al-Hafidz Ibnu Hajar berkata:

Usia Umat Islam Hanya 1500 Tahun Sejak Nabi Diutus? - Ahlussunnah Waljamaah Indonesia
Usia Umat Islam Hanya 1500 Tahun Sejak Nabi Diutus? - Ahlussunnah Waljamaah Indonesia


Usia Umat Islam Hanya 1500 Tahun Sejak Nabi Diutus?



ﻭاﺳﺘﺪﻝ ﺑﻪ ﻋﻠﻰ ﺃﻥ ﺑﻘﺎء ﻫﺬﻩ اﻷﻣﺔ ﻳﺰﻳﺪ ﻋﻠﻰ اﻷﻟﻒ ﻷﻧﻪ ﻳﻘﺘﻀﻲ ﺃﻥ ﻣﺪﺓ اﻟﻴﻬﻮﺩ ﻧﻈﻴﺮ ﻣﺪﺗﻲ اﻟﻨﺼﺎﺭﻯ ﻭاﻟﻤﺴﻠﻤﻴﻦ ﻭﻗﺪ اﺗﻔﻖ ﺃﻫﻞ اﻟﻨﻘﻞ ﻋﻠﻰ ﺃﻥ ﻣﺪﺓ اﻟﻴﻬﻮﺩ ﺇﻟﻰ ﺑﻌﺜﺔ اﻟﻨﺒﻲ ﺻﻠﻰ اﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻛﺎﻧﺖ ﺃﻛﺜﺮ ﻣﻦ ﺃﻟﻔﻲ ﺳﻨﺔ

Hadis ini dijadikan dalil bahwa umat Muhammad akan tetap ada lebih dari 1000 tahun. Sebab masa Yahudi adalah 2x lipat dari masa Nasrani dan Islam. Ahli sejarah sepakat bahwa masa Yahudi sampai diutusnya Nabi shalla Allahu alaihi wa sallama adalah lebih dari 2000 tahun (Fathul Bari 4/449)

Disabdakan dalam hadis lain:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: إنّ الله لن يعجزني في أمّتي أن يؤخّرها نصف يوم قيل: كم نصف ذلك اليوم، قال: خمسمائة سنة .

Sabda Nabi: "Allah tidak akan membuatku lemah di dalam umatku, untuk diakhirkan setengah hari". Berapakah setengah hari? Ia berkata: "500 tahun" (HR Abu Nuaim. Redaksi lain diriwayatkan Abu Dawud dan Ahmad)

Dari beberapa riwayat ini al-Hafidz as-Suyuthi berkesimpulan:

قال الإمام السيوطي: الذي دلّت عليه الآثار أنّ مدة هذه الأمّة تزيد على الألف ولا تبلغ الزيادة خمسمائة أصلاً (رسالة: الكشف عن مجاوزة هذه الأمّة الألف).

"Berdasarkan petunjuk dari beberapa dalil bahwa umat Muhammad ini akan melewati 1000 tahun dan tidak akan bertambah dari 500 tahun" (al-Kasyf an Mujawazat Hadzihi al-Ummah al-Alf)

Namun al-Hafidz Ibnu Hajar menyampaikan atsar lain yang menunjukkan hidup ini tidak berakhir secepat 1500 tahun:

ﻭﻗﺪ ﺃﺧﺮﺝ ﻣﻌﻤﺮ ﻓﻲ اﻟﺠﺎﻣﻊ ﻋﻦ ﺑﻦ ﺃﺑﻲ ﻧﺠﻴﺢ ﻋﻦ ﻣﺠﺎﻫﺪ ﻗﺎﻝ ﻣﻌﻤﺮ ﻭﺑﻠﻐﻨﻲ ﻋﻦ ﻋﻜﺮﻣﺔ ﻓﻲ ﻗﻮﻟﻪ ﺗﻌﺎﻟﻰ ﻓﻲ ﻳﻮﻡ ﻛﺎﻥ ﻣﻘﺪاﺭﻩ ﺧﻤﺴﻴﻦ ﺃﻟﻒ ﺳﻨﺔ ﻗﺎﻝ اﻟﺪﻧﻴﺎ ﻣﻦ ﺃﻭﻟﻬﺎ ﺇﻟﻰ ﺁﺧﺮﻫﺎ ﻳﻮﻡ ﻣﻘﺪاﺭﻩ ﺧﻤﺴﻮﻥ ﺃﻟﻒ ﺳﻨﺔ ﻻ ﻳﺪﺭﻱ ﻛﻢ ﻣﻀﻰ ﻭﻻ ﻛﻢ ﺑﻘﻲ ﺇﻻ اﻟﻠﻪ ﺗﻌﺎﻟﻰ

Ma'mar meriwayatkan dalam al-Jami' dari Ibnu Abi Najih, dari Mujahid, Ma'mar berkata dari Ikrimah dalam firman Allah "...Dalam sehari yang kadarnya adalah 50 ribu tahun..." [al-Maarij: 4]. Ikrimah berkata: "Dunia sejak awal hingga akhir adalah sehari yang kadarnya adalah 50 ribu tahun. Tidak ada yang tahu sudah berapa tahun terlewati dan masih sisa berapa tahun lagi kecuali Allah" (Fathul Bari, 11/352)

Ma'ruf Khozin, anggota di Aswaja NU Center Jatim

Dari : http://www.dutaislam.com/2016/09/usia-umat-islam-sampai-1500-tahun-sejak-nabi-diutus.html

Ini Hasil Mukmatar Ulama Aswaja di Chechnya

Ahlussunnah Waljamaah Indonesia - Pada malam Kamis 21 Dzulqa’dah 1437 H. (25 Agustus 2016) –di tengah berbagai upaya pencatutan istilah “Ahlussunnah Wal Jamaah” dari kaum Khawarij yang tindakan-tindakan salah mereka senantiasa dieksploitasi untuk memperburuk citra agama Islam—terselenggara Muktamar Internasional Ulama Islam do kota Grozny (Chechnya), untuk memperingati al-Syahid Presiden Syaikh Ahmad Haji Kadyrov rahimahullah dengan tema: “Siapakah Ahlussunnah Wal Jamaah? Penjelasan Manhaj Ahlussunnah Wal Jamaah; Akidah, Fikih dan Akhlak serta Dampak Penyimpangan darinya di Tataran Realitas.”

Ini Hasil Mukmatar Ulama Aswaja di Chechnya - Ahlussunnah Waljamaah Indonesia
Ini Hasil Mukmatar Ulama Aswaja di Chechnya - Ahlussunnah Waljamaah Indonesia


Ini Hasil Mukmatar Ulama Aswaja di Chechnya



Acara ini terselenggara berkat dukungan dari Presiden Ramadhan Ahmed Kadyrov hafizahullah, dengan dihadiri oleh Grand Shaikh Al-Azhar, para mufti dan lebih dari dua ratus ulama dari seluruh dunia. Berikut poin-poin hasil dari muktamar:

1. Ahlussunnah Wal Jamaah adalah Asyairah dan Maturidiyah dalam akidah, empat mazhab Hanafi, Maliki, Syafii dan Hambali dalam fikih, serta ahli tasawuf yang murni –ilmu dan akhlak—sesuai manhaj Imam Junaeid dan para ulama yang meniti jalannya. Itu adalah manhaj yang menghargai seluruh ilmu yang berkhidmah kepada wahyu (Al-Quran dan Sunnah), dan telah benar-benar menyingkap tentang ajaran-ajaran agama ini dan tujuan-tujuannya dalam menjaga jiwa dan akal, menjaga agama dari distorsi dan permainan tangan-tangan jahil, menjaga harta dan kehormatan manusia, serta menjaga akhlak yang mulia.

2. Al-Quran Al-Karim adalah bangunan yang dikelilingi oleh berbagai ilmu yang membantu untuk menggali makna-maknanya dan mengetahui tujuan-tujuannya yang mengantarkan manusia kepada ma’rifat kepada Allah SWT., mengeluarkan ilmu-ilmu yang terkandung di dalamnya, mengejawantahkan kandungan ayat-ayatnya ke dalam kehidupan, peradaban, sastra, seni, akhlak, kasih sayang, kedamaian, keimanan dan pembangunan. Serta menyebarkan perdamainan dan keamanan di seluruh dunia sehingga bangsa-bangsa lain dapat melihat dengan jelas bahwa agama ini adalah rahmat bagi seluruh semesta alam, serta jaminan kebahagiaan di dunia dan akhirat.

3. Manhaj Ahlussunnah Wal Jamaah adalah Manhaj Islam yang paling komprehensif, detail dan akurat. Manhaj ini paling perhatian dalam memilih referensi-referensi ilmiah dan metodologi pendidikan yang mencerminkan secara benar tentang cara berpikir seorang muslim dalam memahami syariat dan mengetahui realitas dengan berbagai kerumitannya serta cara mengaitkannya secara baik.

4. Lembaga-lembaga pendidikan Ahlussunnah Wal Jamaah sejak beberapa abad telah sukses menghasilkan ribuan ulama yang tersebar di seluruh penjuru dunia dari Siberia hingga Nigeria, serta dari Tangier hingga Jakarta. Mereka telah menduduki berbagai posisi dan jabatan, serta mengemban amanah di sektor fatwa, peradilan, pendidikan dan khutbah. Sehingga masyarakat diliputi oleh keamanan. Mereka juga berhasil memadamkan api fitnah dan peperangan, sehingga kondisi negara menjadi stabil. Dan mereka pun telah menyebarkan ilmu yang benar.

5. Sepanjang sejarah, Ahlussunnah Wal Jamaah senantiasa memantau berbagai pemikiran yang menyimpang dan memantau tulisan dan konsep berbagai kelompok. Kemudian mereka menimbang semua itu dalam parameter ilmu serta memberikan kritik dan bantahan. Mereka juga senantiasa menunjukkan keberanian dan ketegasan dalam menghadapi berbagai fenomena penyimpangan.

Mereka menggunakan piranti ilmu-ilmu yang kuat dalam melakukan pengawasan dan koreksi. Setiap kali Manhaj Ahlussuunnah Wal Jamaah tersebar secara aktif maka gelombang ekstremisme pasti akan surut. Sehingga kondisi umat Islam stabil dan dapat kosentrasi dalam menciptakan sebuah peradaban. Sehingga didapati para cendekiawan muslim yang berkontribusi dalam ilmu aljabar, perbandingan, perhitungan dan trigonometri. Serta ilmu geometri analitis, pecahan, algoritma, berat (massa), kedokteran dan oftalmologi, psikiatri, onkolog, epidemi, embrio, obat-obatan, ensiklopedia farmasi, ilmu flora dan fauna, gravitasi, astronomi dan lingkungan, ilmu akustik, ilmu optik dan ilmu-ilmu lainnya. Itu semua adalah buah dari Manhaj Ahlussunnah Wal Jamaah yang tidak terbantahkan.

6. Sepanjang sejarah berulang-ulang muncul badai gelombang pemikiran menyimpang yang mengklaim berafiliasi kepada wahyu namun membangkang terhadap metodologi ilmiah yang benar dan ingin menghancurkannya. Serta mengusik keamanan dan kenyamanan masyarakat. Gelombang pertama yang sesat dan membahayakan itu adalah Khawarij klasik hingga sampai pada Neo-Khawarij saat ini dari kalangan Salafi Takfiri dan ISIS serta semua kelompok radikal yang meniti jalan mereka yang memiliki kesamaan, yaitu distorsi, pemalsuan dan interpretasi bodoh akan ajaran agama ini.

Karenanya mereka melahirkan puluhan konsep yang rancu dan interpretasi batil yang melahirkan takfir, penghancuran, pertumpahan darah dan pengerusakan serta penodaan citra Islam dan menyebabkan Islam diperangi dan dimusuhi. Hal inilah yang meniscayakan para ulama untuk membersihkan Islam dari semua hal itu, berdasarkan sabda Nabi SAW. dalam hadis sahih: “‘Ilmu ini diemban dari setiap generasi oleh orang-orang yang adil, mereka membersihkan ilmu dari penyimpangan orang yang melewati batas, kedustaan para pembuat kebatilan dan interpretasi orang-orang yang bodoh.”

7. Dengan seizin Allah, Muktamar ini merupakan titik balik yang berkah untuk meluruskan penyimpangan akut yang berbahaya yang mendominasi pengertian “Ahlussunnah Wal Jamaah” setelah berbagai upaya pencatutan kalangan ektremis akan istilah ini dan membatasinya hanya pada diri mereka serta mengafirkan umat Islam lainnya. Pelurusan penyimpangan ini dilakukan dengan mengaktifkan metode ilmiah yang kuat dan otentik yang diterapkan oleh lembaga-lembaga pendidikan kita yang besar yang merupakan benteng keamanan dalam membantah berbagai wacana takfiri dan ekstremis. Hal ini juga dilakukan dengan mengirimkan pesan-pesan keamanan, kasih sayang dan perdamaian ke seluruh penjuru dunia sehingga –dengan izin Allah—seluruh negeri kita kembali menjadi mimbar cahaya dan sumber hidayah. [Ahlussunnah Waljamaah Indonesia]

Chechnya, Grozny, 24 Dzulqa`dah 1437 H, 27 Agustus 2016 M.

Dari : http://www.dutaislam.com/2016/08/ini-hasil-mukmatar-ulama-aswaja-di-chechnya.html

Jumat, 17 Februari 2017

Baca Surat Al-Fath Awal Ramadhan Untuk Kelancaran Rizki

Ahlussunnah Waljamaah Indonesia - Amalan ini penting namun jarang diketahui banyak orang. Padahal faidahnya banyak sekali. Membaca Surat al-fath pada malam pertama bulan Ramadhan akan mendapatkan kelapangan rizki selama setahun kemudian.

Baca Surat Al-Fath Awal Ramadhan Untuk Kelancaran Rizki - Ahlussunnah Waljamaah Indonesia
Baca Surat Al-Fath Awal Ramadhan Untuk Kelancaran Rizki - Ahlussunnah Waljamaah Indonesia


Baca Surat Al-Fath Awal Ramadhan Untuk Kelancaran Rizki



1. Telah disebutkan di dalam kitab Kanzun Najaah Was Surur, karya Syeikh ‘Abdul Hamid bin Muhammad ‘Ali bin ‘Abdul Qaadir al-Quddus al-Makki asy-Syafie tentang keutamaan membaca surat al-Fath pada malam awal Ramadhan.

Faedah Membaca Surah al-Fath Pada Malam Awal Ramadhan. Telah berkata Syaikh Abu Bakar an-Naisaaburi, "Aku telah mendengar Muhammad bin ‘Abdul Malik berkata, aku telah mendengar Yazid bin Harun berkata, aku telah mendengar as-Sam’udi berkata, 'Telah sampai kepadaku bahwa barangsiapa membaca surah al-Fath pada malam awal (malam pertama) Ramadhan di dalam sholat tathawwu’ (solat sunat), dia berada di dalam penjagaan Allah untuk tahun tersebut'.

2. Sulthonul Ulama' Al Habib Salim bin Abdullah Asy Syathiri berkata, "Hendaknya kita melakukan shalat di malam pertama bulan Ramadhan empat rakaat, yang dibaca untuk setiap rakaatnya satu maqra (tempat tanda bacaan) dari surah Al-Fath (Inna fatahna laka fathan mubina…). Diriwayatkan oleh Al- Khatib Asy-Syarbini bahwa barang siapa melakukan hal tersebut di awal malam Ramadhan, ia akan menjalani kehidupannya setahun dalam kebaikan dan berkecukupan. Hendaknya engkau melaku­kan hal itu".

(Catatan) Tentang membaca surat Al Fath di malam pertama bulan Ramadhan ini, penulis menyimpulkan cara pengamalan dari dua sumber di atas. Caranya, dirikanlah sholat sunat apapun di malam pertama Ramadhan, dan bacalah di dalam sholat tersebut (setelah membaca surah al-Fatihah), separuh daripada surat al-Fath dan sempurnakan separuhnya lagi di dalam rakaat kedua. Bisa dilakukan dua roka'at saja, atau empat roka'at.

3. Tersebut juga di dalam kitab al-Wasaailul asy-Syaafi’ah fi al-Adhkar an-Naafi’ah wa al-Auraad al-Jaami’ah wa ats-Tsimaar al-Yaani’ah wa al-Hujub al-Hariizah al-Maani’ah ‘an an-Nabiy صلى الله عليه وآله وسلم karya al-Imam al-‘Allamah as-Sayyid asy-Syarif al-Muhaddits al-Habib Muhammad bin ‘Ali Khirid al-‘Alawi al-Husaini at-Tarimi (wafat 960هـــ), halaman 474:

Dari Sayyidina Abdullah Ibnu ‘Umar رضي الله عنهما, Rasulullah صلى الله عليه وآله وسلم telah bersabda, "Telah diturunkan kepadaku semalam akan satu surah yang lebih kukasihi daripada segala apa yang terbit matahari atasnya (yakni dunia dan segala isinya), dan dianjurkan agar dibaca pada awal malam bulan Ramadhan. Maka bacalah dan ajarkan kepada anak-anak kalian, insyaaAllah mereka tidak akan ditimpa kesusahan".

4. Berkata Syeikh Hussin Qudri Martapura di dalam karyanya berjudul Senjata Mukmin, pada halaman 92: "Surah al-Fath. (Khasiatnya) barangsiapa membacanya 3 (tiga) kali pada malam permulaan timbul bulan Ramadhan, insyaAllah terpeliharalah ia di dalam setahunan itu dari marabahaya dan diluaskan rezekinya." [Ahlussunnah Waljamaah Indonesia]

Silakan ketik Qabiltu di kotak komentar di bawah

Dari : http://www.dutaislam.com/2016/06/baca-surat-al-fath-awal-ramadhan-untuk-kelancaran-rizki.html

Sabtu, 11 Februari 2017

Mengapa Makam Syekh Maulana Maghribi Ada Banyak? Ini Jawaban Habib Luthfi

Ahlussunnah Waljamaah Indonesia - Ahmad Syah Jalal (cucu Raja Naser abad India) menikah dengan putri raja Champa (Indocina, Vietnam-Kamboja) yang kemudian melahirkan Syekh Jamaludin Husen, memiliki 11 anak. Itulah kakek dari wali 9.

Mengapa Makam Syekh Maulana Maghribi Ada Banyak? Ini Jawaban Habib Luthfi
Mengapa Makam Syekh Maulana Maghribi Ada Banyak? Ini Jawaban Habib Luthfi


Syekh Jamaludin inilah yang melakukan perjalanan -beserta rombongan para ulama yang dari Timur Tengah dan Maroko, hingga sampai ke Indonesia. Rombongan tersebut disebut sebagai al-Maghrobi (sebutan daerah Maghrib, Maroko). Setelah bertemu di Pasai, Aceh, rombongan tersebut langsung menuju ke pulau Jawa, tepatnya di Semarang. Dari Semarang mereka meneruskan perjalannya ke Trowulan-Mojokerto.

Karena akhlak dan budi pekertinya yang baik, beliau sangat dihormati di kerajaan Majapahit.

Meskipun beda agama, pada waktu itu, beliau mendapat beberapa bidang tanah dari Maha Patih Gajah Mada, utamanya untuk kepentingan membuat sebuah padepokan pendidikan santrinya tidak hanya bersala dari dalam negeri, tetapi juga dari luar negeri.

Syekh Jamaludin Husen juga sangat popular disebut dengan Syeikh Jumadil Kubro. Rombongan beliau berpencar dalam menjalankan tugasnya masing-masing. Yang terbanyak di Jawa Timur, Jawa Tengah, lalu sebagian kecil ke Jawa Barat.

Dan makam-makam beliau-beliau ini. di kemudian hari, dinamakan al-Maghrobi. Makam dengan julukan itu sangat banyak, dan hal itu wajar karena orangnya bukan satu, tapi banyak.

Rombongan kedua dipimpin oleh dua tokoh, yang pertama Maulana Malik Ibrahim dan Sayyid Ibrohim Asmoroqondi (As Samarqondi) atau Pandito Ratu. Ketika itu, rombongan Maulana Malik Abdul Ghofur yang juga merupakan kakak Maulana Malik Ibrohim disebut pula sebagai al-Maghrobi-al-Maghrobi. Rombongan ini ternyata lebih banyak dari jumlah sebelumnya.

Maulana Malik Ibrohim adalah cucu dari Syekh Jumadil Kubro. Rombongan ini juga berpencar, dan di antara robongan-rombongan tersebut ada yang sampai ke Pekalongan. Jumlahnya ada sekitar 25 orang maulana-maulana al Maghrobi. Makam beliau juga terpencar-terpencar dengan nama yang sama, Maulana Maghrobi.

Prabu Siliwangi (kerajaan Pajajaran) memanggil Maulana Maghrobi dengan sebutan kakek (pernahnya). Artinya, Maulana Maghrobi itu lebih tua dari Prabu Siliwangi. Di antara anggota rombongan itu, ada yang wafat satu orang, dimakamkan di pesisir Semarang, yang juga dikenal dengan nama Syekh Jumadil Kubro. Lokasinya dekat Kaligawe.

Dan ada juga yang wafat di Pekalongan, nama yang pertama adalah Maulana Syarifudin Abdullah, Hasan Alwi al Quthbi. Beliau bersama rombongannya tinggal di daerah Blado, Wonobodro. Lalu ada dua orang lagi bernama Maulana Ahmad al Maghrobi dan Maulana Ibrohim Almaghrobi, tinggal di daerah Bismo. Tiga tokoh tersebut dimakamkan di Bismo dan Wonobodro.

Yang di Bismo membangun masjid di Bismo, sementara yang di Wonobodro membangun masjid juga di Wonobodro. Yang di Setono (pekalongan), ada Maulana Abdul Rahman dan Maulana Abd Aziz Almaghrobi. Di antaranya lagi, tersebut nama Syekh Abdullah Almaghrobi Rogoselo, Sayidi Muhammad Abdussalam Kigede Penatas Angin.

Jadi, Almaghrobi tersebut ada empat generasi; generasi Jamaludin al Husen, generasi Ibrohim Asmoroqondi dan generasi Malik Ibrohim, lalu generasi Sunan Ampel. Yang dimakamkan di Paninggaran, daerah Sawangan, Wali Tanduran, adalah termasuk generasi kedua, walaupun bukan golongan al Maghrobi. Beliau sangat gigih dalam syi’ar Islam di Paninggaran. Kalau dalam bahasa Sunda, paninggaran itu berarti cemburu.

Pekalongan ini masih terpengaruh Jawa Barat dan sebagian Jawa Timur. Karena perbatasan Mangkang itu wilayah Majapahit, dan Mangkang ke arah barat sudah termasuk ikut wilayah Pajajaran Kuno. Pekalongan sendiri terpengaruh bahasa-bahasa Sunda dengan salah satu buktinya, ada nama tempat berawalan Ci, yakni Cikoneng Cibeo, di daerah Sragi.

Jadi, sebelum sebelum wali 9 yang masyhur seperti Sunan Ampel, Sunan Giri Sunan, Kali Jogo dan lainnya, sudah ada wali sembilan seperti Lembaga Wali Sembilan jamannya Sunan Ampel itu. Lembaga wali Sembilan ini seperti Wali Abdal, yang jumlahnya ada 7. Wafat satu akan ada yang menggantikannya. Wafat satu, berganti dan seterusnya. Jumlahnya tidak lepas dari 7. Nah wali 9 pun demikian.

Termasuk Kigede Penatas Angin itu Walisongo. Yang Wonobodro juga bagian dari Walisembilan, tapi tentu masuk generasi sebelum Walisongo yang masyhur itu. Ki Gede Penatas Angin adalah yang mempertahankan Pekalongan dari serangan Portugis.

Pada waktu wali 9, di zaman Sunan Gunung Jati, sudah ada yang masuk ke Pekalongan. Namanya Kiyai Gede Gambiran, di pesisir pantai. Tapi karena terkena erosi, sekarang Gambiran sudah tidak ada.

Ada lagi Sayid Husen, di daerah Medono, dikenal sebagai makam Dowo Syarif Husen, hidup dijaman wali 9 juga, antara tahun 1590 an, sebelim masuk pejajahan Belanda. Walaupun tidak banyak disebut dalam sejarah Demak, Pekalongan dulu sangat dekat dan erat.

Pada tahun 1900, Pekalongan lebih sedikit pelabuhannya di sekitar Loji, daerah hilir. Makanya di daerah sekitar itu, nama-nama desanya ada yang dijuluki Bugis; Bugisan, Sampang; Sampangan.

Pekalongan pada waktu itu sudah mulai maju, baik dalam pendidikan agama, ekonomi maupun lainnya. Di Dieng dan daerah sekitarnya, ada beberapa Candi. Itu menunjukkna kultur di Pekalongan sudah maju.

Di daerah Reban sampai Blado pernah ditemukan situs air langga. Itu semua menunjukan kalau Pekalongan sudah tua, hanya kita belum menemukan bukti secara kongritnya. Di antara bukti lainnya adalah pada jaman Sultan Agung Pekalongan, sudah ada tempat atau lumbung-lumbung padi dan beras.

Dan diantara tokoh-tokoh yang berperan pada waktu itu adalah tokoh yang di makamkan di Sapuro, yaitu Ki Gede Mangku Bumi. Sayang makamnya sudah rusak. Jaman almarhum Pak Setiono, saya masih sempat meminta untuk menulis tentang tokoh itu. Beliau meninggal pada tahun 1517 Masehi, makamnya di Sapuro, belakang masjid.

Ada lagi tokoh lain -walaupun aslinya dari Bupati Pasuruan,- namanya Raden Husen Among Negoro. Beliau meninggal tahun 1665 dan dimakamkan di belakang masjid Sapuro. Beliau adalah Putra Tejo Guguh, Putra bupati Kayu-Gersik ke dua. Beliau ini yang menurunkan bupati Pekalongan pertama.

Pada waktu itu penduduk sudah ramai disusul dengan beberapa tokoh yang lain seperti Ki Hasan Cempalo atau Kyai Ahmad Kosasi, sang menantu.

Bupati Pekalongan bernama Adipati Tanja Ningrat meninggal tahun 1127 H. dimakamkan di Sapuro juga, hidup sezaman dengan Jayeng Rono Wiroto, putra Amung Negoro Kyai Gede Hasan Sempalo.

Dan di Noyontaan (Jl. Dr. Wahidin), ada juga tokoh bernama Kiyai Gede Noyontoko, sehingga desa tersebut disebut Noyontaan, sebab waktu itu, yang membuka daerah adalah Ki Gede Noyontoko.

Dulu di belakang rumahnya Pak Teko, meninggal tahun 1660 M. Banyak lagi tokoh sepuh Pekalongan lainnya, seperti Wali Rahman di Noyontaan, dulu di Tikungan Jl. Toba atau di depan pabrik Tiga Dara, tapi sekarang makam nya sudah hilang. [Ahlussunnah Waljamaah Indonesia]

Keterangan: Dipetik dan diedit dari wawancara Kabag Humas Kab. Pekalongan pada Al-Habib M. Lutfi bin Yahya di Kayu Geritan.

Dari : http://www.dutaislam.com/2017/01/mengapa-makam-maulana-maghrobi-ada-banyak-ini-jawaban-habib-luthfi.html

Inilah Alasan Prof Quraish Tidak Mau Dipanggil Habib Walau Bermarga Shihab

Ahlussunnah Waljamaah Indonesia - Quraish Shihab, akademisi, mufasir, dan menteri agama era Soeharto itu sesungguhnya mempunyai semua persyaratan untuk menjadi seorang habib. Quraish merupakan cucu dari Habib Ali bin Abdurrahman, habib asli asal Hadhramaut, Yaman.

Inilah Alasan Prof Quraish Tidak Mau Dipanggil Habib Walau Bermarga Shihab
Inilah Alasan Prof Quraish Tidak Mau Dipanggil Habib Walau Bermarga Shihab


Tak hanya dari segi silsilah, Quraish juga teruji secara keilmuan. Ia dihormati berbagai kalangan karena kemampuan akademik dan agama yang jempolan. Namun, Quraish Shihab menolak menggunakan gelar habib. Kenapa?

Dalam buku biografinya, Cahaya, Cinta, dan Canda, Quraish mengatakan bahwa ia keberatan menyandang gelar tersebut karena pengertian dan kesan tentang habib di Indonesia telah berkembang jauh.

Prof. Quraish sadar ada pergeseran persepsi terkait habib di Indonesia. Di Indonesia, habib berkembang menjadi sebuah kesan. Yakni kesan menjadi orang yang berilmu wahid dan dekat dengan Rasul.

Habib Quraish juga mengkhawatirkan adanya kemungkinan asosiasi Rasul dengan dirinya. Singkatnya, gelar habib di Indonesia, menurut Quraish terkesan “mengandung unsur pujian.” Maka, ia berkukuh menolak memakai gelar habib, meski berhak.

Quraish berpandangan, mereka yang pantas memanggul gelar habib, selain karena faktor keilmuan dan silsilah, harus pula dilihat akhlaknya.

“Saya merasa, saya butuh untuk dicintai, saya ingin mencintai. Tapi rasanya saya belum wajar untuk jadi teladan. Karena itu saya tidak, belum ingin dipanggil Habib,” ujar Quraish halus. [Ahlussunnah Waljamaah Indonesia]

Dari : http://www.dutaislam.com/2017/01/inilah-alasan-prof-quraish-tidak-mau-dipanggil-habib-walau-bermarga-shihab.html

Akhirnya Habib Rizieq Ditetapkan Tersangka Penodaan Pancasila oleh Polda Jabar

Ahlussunnah Waljamaah Indonesia - Polda Jabar menetapkan imam besar Front Pembela Islam (FPI) Habib Rizieq Syihab (HRS) sebagai tersangka kasus dugaan penodaan Pancasila. Penetapan HRS sebagai tersangka berdasarkan hasil rangkaian gelar perkara tahap penyidikan yang dilakukan tim penyidik Ditreskrimum Polda Jabar.

Akhirnya Habib Rizieq Ditetapkan Tersangka Penodaan Pancasila oleh Polda Jabar
Akhirnya Habib Rizieq Ditetapkan Tersangka Penodaan Pancasila oleh Polda Jabar


"Penyidik meningkatkan status Rizieq Syihab dari saksi terlapor menjadi tersangka," kata Kabidhumas Polda Jabar Kombes Yusri Yunus di Mapolda Jabar, Jalan Soekarno Hatta, Kota Bandung, Senin (30/1/2017), sebagaimana diberitakan Detikcom.

Gelar perkara ketiga ini berlangsung hari ini selama tujuh jam atau sejak pukul 11.00 WIB hingga pukul 18.00 WIB. Sebelumnya, pagi hari tadi, penyidik minta keterangan tambahan kepada satu saksi ahli. Tercatat, menurut Yusri, sebanyak 18 saksi sudah didengarkan keterangannya oleh penyidik berkaitan dengan kasus tersebut.

Yusri menjelaskan pihak penyidik Ditreskrimum Polda Jabar melakukan analisis dan evaluasi dalam gelar perkara. Tim penyidik, lanjut Yusri, bekerja mengumpulkan keterangan saksi-saksi dan alat bukti untuk menguatkan sangkaan terhadap HRS.

HRS disangkakan melanggar Pasal 154 a KUHP tentang Penodaan terhadap Lambang Negara dan Pasal 320 KUHP tentang Pencemaran terhadap Orang yang Sudah Meninggal. "Perkara penistaan Pancasila dan pencemaran proklamator ini seluruhnya sudah masuk unsur dan alat bukti yang cukup," tutur Yusri.

Kasus yang menjerat Rizieq merupakan buntut dari pelaporan Sukmawati Soekarnoputri. Ketua Partai Nasional Indonesia (PNI) Marhaenisme tersebut menganggap Rizieq melakukan penodaan terhadap lambang dan dasar negara Pancasila serta menghina kehormatan martabat Sukarno selaku proklamator kemerdekaan Indonesia dan presiden pertama Indonesia.

Bareskrim Mabes Polri semula menerima laporan Sukmawati, lalu melimpahkan perkara tersebut kepada Polda Jabar. Alasannya, tempat kejadian atau area ceramah HRS yang dianggap melecehkan Pancasila ini berlokasi di Lapangan Gasibu, Kota Bandung, atau masuk wilayah hukum Polda Jabar. [Ahlussunnah Waljamaah Indonesia]

Dari : http://www.dutaislam.com/2017/01/akhirnya-habib-rizieq-ditetapkan-tersangka-penodaan-pancasila-oleh-polda-jabar.html

Kivlan Zein, Apa Betul Pesantren Anti Pancasila?

Saya bukan jenderal, karena itu saya tidak berani menuduh seperti jenderal Kivlan Zen seperti di media "umat Islam" Panjimas. Saya seorang yang bekerja di UIN Walisongo yang terikat dengan prinsip dan aturan akademik, sehingga tidak boleh berbicara tanpa data yang benar. Sebagai seorang jenderal, sudah seharusnya menjaga ideologi Pancasila bersama para santri dan akademisi.

Kivlan Zein, Apa Betul Pesantren Anti Pancasila?
Kivlan Zein, Apa Betul Pesantren Anti Pancasila?


Pancasila harus selalu kita jaga bersama. Kenapa jenderal justru bersama para ustadz yang mendukung gerakan HTI, yang jelas jelas mengibarkan bendera khilafah islamiyah. Jendaral bisa bertanya kepada teman di HTI, apakah tujuan dari sistem yang akan dibangun oleh Khilafah Islamiyah? Tentu sudah banyak tertulis di spanduk dan selebaran, dan dengan jelas mereka menegaskan ingin mendirikan negara Islam dan mengganti ideologi Pancasila yang mereka sebut sebagai ideologi thagut.

Pantaskah seorang jenderal bersama para ustadz yang mendukung mereka yang mengatakan bahwa semua umat Islam yang mempercayai Pancasila akan masuk neraka semua? Banyak pidato-pidato propaganda HTI yang mengajak umat Islam membuat negara Islam di Indonesia.

Jendaral Kivlan Zen, semoga antum tidak berkepanjangan menyebarkan propaganda dengan menuduh UIN sarang komunis, pesantren sudah kemasukan komunis. Bagaimana mungkin pesantren menolak mereka yang ingin belajar dan menghayati ilmu hakikat dan ilmu kaweruh untuk mencapai manusia sejati?

Siapa pun tidak boleh menolak mereka yang akan belajar di pesantren. Karenanya, meski para kiai pernah dibenturkan dengan gerakan komunis oleh orang yang tidak bertanggung jawab, merekalah justru yang kali pertama membuka diri untuk saling memaafkan dan menerima anak-anak mereka belajar di pesantren. Jenderal, pahamilah jika ada dosa pada seseorang, maka pesantren tidak mengenal dosa turunan.

Jika belum ada kejahatan yang secara langsung dilakukan oleh seseorang, maka tidak boleh mengaitkan kejahatan yang dilakukan orang tua menjadi bentuk kejahatan anaknya. HTI sudah terus terang ingin membuat negara Islam, pantaskah jika ada seorang jenderal justru berbalik menuduh lembaga pesantren yang menerima ideologi Pancasila menjadi sarang ideologi komunis?

Pesantren merupakan lembaga pendidikan yang berkarakter, sehingga semua yang masuk pesantren harus belajar dengan karakter pesantren dalam beragama dan membela bangsa. Karenaya, tepat jika ada hari santri di Indonesia, sebab jasa pesantren terhadap bangsa sangat besar.

Jenderal, saya tidak paham maksud pernyataan antum di Panjimas dan di beberapa seminar bersama umat Islam yang suka mengkafirkan dan menuduh bid'ah dlalalah pada sikap kiai dan santri itu. Sudah seharushya melakukan seleksi dengan penuh bijaksana, bagaimana keterlibatan berserikat seorang jenderal bersama masyarakat menjadi lebih bersahaja dan tepat? Sebab semua jenderal bersumpah akan menjaga ideologi Pancasila.

Sedangkan, para santri sepenuh hati menerima ideologi Pancasila. Ingat, jenderal berpegang pada ideologi kebangsaan bersama santri dan pesantren, bukan berarti tidak boleh membaca hikmah kehidupan dari siapa pun dan dari peristiwa apapun. Para pengasuh pesantren harus berjuang membela bangsa, membuka dialog dan menerima siapa pun yang ingin belajar, ternyata menjadi sasaran tuduhan antum yang tidak bertanggung jawab.

Berhentilah berkata sebelum memahami realitas di lapangan. Apakah karena sebuah kepentingan seseorang boleh berkata mengganggu ketenangan masyarakat? Pernahkah ada deklarasi pesantren anti Pancasila, perguruan tinggi anti Pancasila. Hingga kini, kita belum pernah melihat pesantren dan perguruan tinggi bersikap seradikal itu.

Justru, yang sudah jelas, adalah deklarasi HTI sebagai kelompok yang ingin mendirikan negara Islam. Kami, pesantren, dan UIN mencintai Pancasila. Mencintai Pancasila merupakan bentuk sikap bid'ah yang penuh dengan kenikmatan. Kami punya prinsip, hubbul wathan min al iman. Mencintai negara adalah sebagian dari iman. [Ahlussunnah Waljamaah Indonesia

Dari : http://www.dutaislam.com/2016/06/kivlan-zein-apa-betul-pesantren-anti-pancasila.html

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Ahlussunnah Waljamaah Indonesia sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Ahlussunnah Waljamaah Indonesia. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Ahlussunnah Waljamaah Indonesia dengan nyaman.


Nonaktifkan Adblock