Kamis, 10 September 2009

Lesbumi Yogya Perkuat Kembali Hubungan Agama dan Budaya

Yogyakarta, Ahlussunnah Waljamaah Indonesia. Pengurus Wilayah Lembaga Seni Budaya Muslim Indonesia (Lesbumi) NU Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) berupaya memperkuat kembali hubungan agama dan kebudayaan. Selama ini hubungan keduanya kurang berkembang dan kurang diperhatikan.

NU sebagai ormas Islam terbesar di Indonesia, memiliki kaitan erat dengan budaya Nusantara. Salah satunya terpatri dalam lembaga bernama pesantren. Namun pesantren sendiri pada perkembangannya lebih berorientasi ke keagamaan.

Lesbumi Yogya Perkuat Kembali Hubungan Agama dan Budaya (Sumber Gambar : Nu Online)
Lesbumi Yogya Perkuat Kembali Hubungan Agama dan Budaya (Sumber Gambar : Nu Online)


Lesbumi Yogya Perkuat Kembali Hubungan Agama dan Budaya

Untuk memperkuat kembali hubungan agama dan kebudayaan, Lesbumi DIY bekerja sama dengan Kepala Dinas Kebudayaan DIY mengadakan workshop Seni Pesantren dan Tradisi dalam Budaya Yogyakarta di Gedung PWNU DIY, Jl. MT. Haryono No. 40-42, Yogyakarta, Rabu (5/11) pagi.

Workshop ini dihadiri oleh lembaga-lembaga PWNU dan Badan Otonom (Banom) se-DIY, seperti IPNU, IPPNU, LAZISNU, LTNU, dan Kru Majalah Bangkit. Acara ini menghadirkan Kepala Dinas Kebudayaan DIY GBPH Yudhaningrat, Kepala Kanwil Kemenag DIY, dan Jadul Maula.

Ahlussunnah Waljamaah Indonesia

Pada kesempatan itu, Jadul Maula mengajak untuk memperkuat kembali hubungan antara agama dan budaya. Hubungan antara keraton dan pesantren itu saling terkait erat. Seperti Sunan Ampel mendirikan pesantren atas restu Raja Brawijaya V.

Ahlussunnah Waljamaah Indonesia

Hubungan genealogi guru-murid di dalam pesantren-keraton sangat erat. Sehingga perlu menegaskan kembali hubungan antara agama dan budaya, tutur Pimpinan Pesantren Kali Opak tersebut.

GBPH Yudhaningrat juga menegaskan perkembangan kesenian pesantren berasal dari Walisanga. Kesenian di pesantren dimulai dari datangnya Islam ke Nusantara yang dibawa oleh para walisanga. Dialog antara islam dan kebudayaan Nusantara, tutur adik sultan Hamengkubuwono X.

Ia mencontohkan perkembangan awal tradisi Sekaten. Menurutnya, awalnya tradisi sekaten dibuat oleh Sunan Bonang dan sunan Kalijaga. Sehingga budaya (seni) adiluhung adalah budaya (seni) yang menggambarkan kekuasaan Tuhan. Sehingga seni itu tidak bisa dipisahkan dari keagamaan. (Suhendra/Abdullah Alawi)

Dari (Nasional) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/55540/lesbumi-yogya-perkuat-kembali-hubungan-agama-dan-budaya

Ahlussunnah Waljamaah Indonesia

Menyajikan informasi secara lugas dan berimbang, disertai data-data yang akurat dan terpercaya.

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Ahlussunnah Waljamaah Indonesia sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Ahlussunnah Waljamaah Indonesia. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Ahlussunnah Waljamaah Indonesia dengan nyaman.


Nonaktifkan Adblock