Selasa, 07 Februari 2017

NU Sendirian Melawan Kelompok Garis Keras

Ahlussunnah Waljamaah Indonesia - Sekretaris Lembaga Ta'lifwan Nasyr Pengurus Besar Nahdatul Ulama (LTN PBNU), Savic Ali mengatakan, lembaganya merasa sendirian menghadapi kelompok intoleran yang mulai muncul sejak era reformasi. Savic menyebut, publik dan pemerintah tak benar-benar bisa menyikapi keberadaan kelompok tersebut.

NU Sendirian Melawan Kelompok Garis Keras
NU Sendirian Melawan Kelompok Garis Keras


"Saya kira bertahun-tahun NU praktis sendirian terhadap kelompok kelompok intoleran," ujar Savic saat ditemui CNNIndonesia.com, Selasa (24/01/2017).

Savic menyatakan, sejak reformasi terdapat organisasi atau kelompok yang berhaluan keras antara lain Front Pembela Islam (FPI), Majelis Mujahiddin, Laskar Jihad, dan Hizbut Tahrir Indonesia (HTI).

Belakangan, menurut Savic, kasus dugaan penodaan agama yang menjerat Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) membuat khalayak mulai peduli dengan isu keberadaan kelompok-kelompok radikal atau intoleran.

Savic menilai pemerintah kurang berdialog atau menjelaskan soal status hukum organisasi atau kelompok tersebut sehingga perdebatan terjadi di wilayah sosial.

Dia mencontohkan, NU sering berhadapan dengan kelompok intoleran yang memaksa menutup gereja atau melakukan razia semaunya. Saat Natal, Barisan Ansor Serbaguna NU dikerahkan untuk menjaga beberapa gereja. "Ini ironis," kata Savic.

Menurut Savic, seluruh elemen bangsa harus peduli dan mengambil sikap terhadap keberadaan kelompok intoleran atau garis keras. Masyarakat harus mewaspadai penetrasi paham kelompok tersebut.

Penetrasi, kata Savic, dapat melalui berbagai tempat seperti masjid, gedung-gedung yang digunakan shalat Jumat, sekolah atau komunitas kampus.

Saat ditanya soal konflik antara Gerakan Masyarakat Bawah Indonesia (GMBI) dan FPI, Savic menilai hal itu murni politik dan merupakan wilayah tanggung jawab polisi. "Saya kira NU tidak ada concern dengan konflik FPI dan GMBI," tuturnya.

Savic menjelaskan, NU mencegah semangat persaudaraan sebagai satu bangsa tidak hilang karena sentimen keagamaan yang selalu bergaung. "Jangan sampai pandangan Islam radikal itu menjadi mayoritas di Indonesia," katanya. [Ahlussunnah Waljamaah Indonesia]

Dari : http://www.dutaislam.com/2017/01/nu-sendirian-melawan-kelompok-garis-keras.html

Menyajikan informasi secara lugas dan berimbang, disertai data-data yang akurat dan terpercaya.

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Ahlussunnah Waljamaah Indonesia sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Ahlussunnah Waljamaah Indonesia. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Ahlussunnah Waljamaah Indonesia dengan nyaman.


Nonaktifkan Adblock